Ribuan Bibit Murbei Bantuan Provinsi Tidak Tumbuh, Ketua Asosiasi Sutra Sebut Dana Pemeliharaan Belum Cair

Bibit tanaman murbei bantuan pemerintah provinsi Sulsel untuk kabupaten Wajo, sebahagian tidak tumbuh (foto : internet)

MEDIABAHANA.COM, WAJO — Program Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) melalui Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel untuk mengembalikan kejayaan persuteraan di Wajo terancam gagal.

Bantuan 1 juta bibit murbei yang sudah disalurkan di 4 desa di Kabupaten Wajo, tidak semuanya tumbuh dengan baik.

Anggaran bantuan bibit ini bersumber dari APBD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2020 melalu Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel.

Ketua Asosiasi Sutra Solusi Center (SSC), Kabupaten Wajo, Kurnia yang dihubungi via Handphone, membenarkan adanya lokasi yang bibit murbeinya tidak tumbuh dengan baik, salah satunya di Desa Bottopenno Kecamatan Majauleng.

Kurnia mengatakan, tidak tumbuhnya bibit murbei dengan baik, karena kualitas bibitnya, bahkan diduga tidak sesuai dengan spesifikasi.

Faktor lainnya, yaitu ditanam pada musim kemarau, dan anggaran pemeliharaannya belum cair sampai sekarang, belum lagi faktor x yang melibatkan oknum.

Katanya, ada 2 desa di Kabupaten Wajo, yang mendapatkan bantuan bibit murbei untuk tahap pertama, dari Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel, yaitu Desa Bottopenno Kecamatan Majauleng dan Desa Pasaka Kecamatan Sabbangparu.

“Tahap pertama ada 2 desa yang dapat bantuan yaitu Desa Pasaka 80.000 bibit dengan luas lahan 2 Ha dan Desa Bottopenno 220.000 bibit dengan luas lahan 5,5 Ha. Jadi total bantuan bibit tahap pertama sebanyak 300.000 bibit,” jelas Kurnia.

Untuk tahap kedua, lanjut H. Kurnia, ada 2 desa yang kembali mendapatkan bantuan yaitu desa Wajoriaja Kecamatan Tanasitolo 480.000 bibit dengan luas lahan 12 Ha dan Desa Watangrumpia Kecamatan Majauleng 220.000 bibit dengan luas lahan 5,5 Ha.

Menurut Kurnia, tingkat pertumbuhan bibit murbey untuk desa Pasaka mencapai 75 persen.

Pada saat rencana penyaluran bibit tahap kedua, kata Kurnia, ia sempat mendatangi Bapeda Provinsi meminta agar penyaluran bibit dipending dulu dengan sejumlah pertimbangan.

“Saya menghadap ke Bapeda Provinsi waktu itu, agar bantuan bibit tahap kedua dipending, dengan pertimbangan bibit yang disalurkan tidak sesuai dengan spesifikasi dan musim kemarau mengancam pada bulan Desember dan Januari,” ujarnya.

Tapi ternyata, lanjut Kurnia, Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel tetap menyalurkan bibit diakhir tahun 2020 untuk 2 desa di Wajo.

“Bagaimana mau tumbuh dengan baik, bibit ditanam pada musim kemarau, belum lagi biaya pemeliharaan yang bersumber dari APBD Kabupaten Wajo, belum cair sampai sekarang, disisi lain lahan sudah ditumbuhi rumput dan perlu segera dibersihkan,” ujarnya.

Kurnia juga menyesalkan karena tidak dilibatkannya pihak Unhas dalam proses pengadaan bibit, padahal Unhas adalah pendamping tekhnis.

“Saya pernah sampaikan sama Pak Kadis Perindustrian Wajo, agar meminta rekomendasi untuk melibatkan Unhas dalam hal pendampingan,” pungkas Kurnia. (**)

Editor : HS. Agus

 

 

Exit mobile version