Ragam  

Kisah Utang 100.000 Nyawa Bugis Wajo Bagi Kerajaan Makassar

Oleh : D. Suhardiman Sunusi

MEDIABAHANA.COM, WAJO — Koalisi Wajo dan Gowa Makassar melawan Bugis Bone dan Soppeng yang dibantu Belanda yang jadi tukang kompor.. kipas sana kipas sini, hingga terjadi perjanjian Bongaya..

La Tenri Tatta Arung Palakka bersama Cornelis Speelman dengan persenjatan yang lengkap meninggalkan Butung menyusuri daerah-daerah pesisir yang termasuk kekuasan KaraengE ri Gowa.

Banyak daerah pesisir yang tadinya berpihak kepada Gowa, berbalik dan menyatakan berpihak kepada La Tenri Tatta Arung Palakka.

Sementara melalui darat, Arung Bila, Arung Pattojo, Arung Belo dan Arung Appanang terus membangkitkan semangat orang Bone dan orang Soppeng untuk berperang melawan Gowa.

Beberapa daerah di Tanah Pabbiring Barat berbalik pula melawan KaraengE ri Gowa.

Dengan demikian keadaan KaraengE ri Gowa Sultan Hasanuddin sudah terkepung. Kompeni Belanda dibawah komando Cornelis Speelman menghantam dari laut, sementara Arung Palakka dengan seluruh pasukannya menghantam dari darat. Semua arung yang tadinya membantu Gowa kembali berbalik menjadi lawan, kecuali Wajo tetap membantu Gowa.

Karena merasa sudah sangat terdesak dan pertempuran telah banyak memakan korban dipihak Sultan Hasanuddin, maka pada hari Jumat tanggal 21 November 1667 M. KaraengE ri Gowa I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin bersedia mengakhiri perang. Kesediaannya itu ditandai dengan suatu perjanjian yang bernama Perjanjian Bungaya.

Perjanjian mana ditanda tangani oleh Sultan Hasanuddin dengan Cornelis Speelman Admiral Kompeni Belanda. Sementara perjanjian Sultan Hasanuddin dengan Arung Palakka adalah melepaskan Bone dan Soppeng sebagai jajahan Gowa.
Namun Wajo tidak mau tunduk kepada kerajaan Bone, kerajaan Soppeng dan Belanda.

Raja Arung Matowa Wajo La Tenri Lai menawarkan masih ada sisa 10.000 pasukannya yang masih hidup sudah bersumpah siap untuk melawan hingga tewas.

Namun Sultan Hasanuddin berkata,
” pulanglah ke Wajo, Gowa sudah berhutang 100.000 nyawa orang bugis Wajo yang gugur. Jika yang 10.000 lagi tewas.. maka tidak ada bibit penerus generasi di Wajo”

Sedangkan Bone berkata kepada Sultan hasanuddin…

” Perang kita sudah berakhir Karaeng,namun perang saya dengan saudara saya Wajo belum selesai ”

Janji La Tenri untuk tetap melawan Belanda dibuktikan melalui perang dahsyat di Tosora.

Wajo tetap tidak mau tunduk dan gagal ditaklukkan sampai beliau meninggal dunia.

Ini salah satu kisah kesatria dari Wajo . Dua meriam sebagai nisan pertanda dia tewas akibat bola meriam yang dijadikan nisan itu.

Di Makassar ada sungai jeneberang yang berarti air darah kucuran parang/pedang, sungai dari hulu hingga ke hilir itu berwarna merah banjir darah manusia selama periode sianre bale.

Sedangkan periode ini yang membuat banyak orang Bugis Makassar menjadi muak dan sebal melihat kondisi kampung halaman mereka dan memutuskan eksodus besar besaran untuk mencari tanah kebebasan. (**)

Editor : HS. Agus

Exit mobile version