Ragam  

BIMTEK, Dari Zaman Kerajaaan Sudah Ada

Oleh : Suhardiman Sunusi

MEDIABAHANA.COM, WAJO — Salah satu prilaku pejabat yang sering bikin geram masyarkat di daerah adalah kwbiasan pejabat Daerah keluar daerah untuk melakukan Bimtek atau studi Banding……

Definisi Bimtek adalah suatu kegiatan dimana para peserta diberi pelatihan-pelatihan yang bermanfaat dalam meningkatkan kompetensi peserta yang dimana materi yang diberikan meliputi Tata Pemerintahan yang Baik dan Profesionalisme Aparatur, Kepemimpinan, dll.

Tujuan Bimtek adalah Meningkatkan profesionalisme dan kompetensi dalam perkembangan dan persaingan SDM ; meningkatkan prestasi kerja berbasis kompetensi; meningkatkan kerjasama dan koordinasi dalam pelayanan publik dasar; Meningkatkan tata kelola dalam terwujudnya Government dan Governance.

Sasaran yang ingin dicapai setelah mengikuti Bimtek adalah memahami dan menerapkan hal hal yang ada terkait Tupoksi di lapangan

Jauh sebelum Indonesia Mengenal kegiatan Bimtek dan Studi Banding, di beberapa Kerajaan pada zaman Lampau di daerah bugis dan makassar itu sudah melakukan kegiatan BIMTEK

Datu Soppeng ke Luwu

Menurut Lontaraq pappaseng Andi Ninnong ranreng tuwa Wajo, mengatakan bahwa ketika Datu soppeng La pasampoi meninggal Dunia, sesuai dengan Hukum adat Kedatuan Soppeng, bahwa raja yang meninggal Dunia tidak boleh di kebumikan jikalau penggantinya belum dipilih atau dilantik, maka keenampuluh matoa soppeng riaja, dan soppeng rilauk, memilih La Manussak, To Akkarangeng, untuk menggantikan ayahnya, yang telah meninggal dunia,

Akan tetapi Lamanussak To Akkarangengmemohonkepada pemangku adat soppeng untuk diberikan dispensasi selama 3 bulan, karena ia bermaksud untuk pergi ke Luwu bergurupada seorang cendekiawan bernama To Ciung To Tongeng Maccae ri luwu

Alasan La Manussa To Akkarangeng ialah bahwa suatu negeri jika di perintah oleh raja yang bodoh akan hancur, menurut orang bugis dahulu kala yang di ssebut orang pandai ialah maccai na malempuk, karena seorang yang hanya pandai tapi tidak jujur tidak tergolong to Acca , syarat lain yang harus dipunyai oleh Pattuppu batu adalah waraniwi na magetteng ( konsekuen dan Tegas ) kemudian seorang pemimpin juga haruslah maka maka yang dimaksud maka maka bukan saja kaya harta benda, tetapi sugik nawa nawa , kaya akan buah pikiran yang cemerlang sugik watakkale, yaitu pemurah….ia harus menyayangi rakyat atau orang yang dipimpinya dan menjadi panutan rakyat
Berdasarkan alasan tersebut, maka La Manussa diterima permohonannya, sehingga 3 bulan lamanya Arung bila yang dityugaskan menjalankan tugas Raja

Didalam Lontarak Andi Ninnong di sebutkan bahwa, La Manussak di sebut La Baso sebuah sebutan nama kecil bangsawan yang masih muda belia.
Kesimpulan dari pertemuan Datu Soppeng La Manussak dengan Maccae riluwu yaitu belajar tentang ampe ampe to mapparentae, belajar juga tentang Pangadereng, kemudian assitinajangeng ri padanta rupa tau dan juga belajar Hukum dan peradilan , kemudian prilaku yang memanjangkan umur dan jabatan dan masalah pertanian, persatuan dan kesatuan dan pantangan ( sapakna tanae, sapakna taneng taneng nge dan yang membesarkan kerajaan

Gowa ke Wajo

Pada suatu ketika datanglah Raja Gowa ke 13 yang bernama Tepukaraeng daeng Parabungdatang ke Wajo menemui Arung Matowa La Mungkace To Uddamang untuk belajar kedamaian, pertanian/panarang, memperpanjang usia dan tentang Keesaan Tuhan (Dewata Tunggal). Setahun

Kemudian datang lagi Raja Gowa ke 14 setelah wafat Tepukaraeng Daeng Parabung ke Arung Matowa Wajo dengan materi ajar yang sama.
La Mungkace To Uddamang memberikan penjalasan bahwa semua yang ditanyakan pada dasarnya bersumber dari kejujuran. Jujur Dewata Sewwae, maksudnya tidak semata-mata terhadap semua yang diciptakan-Nya. Bila mana kita berbuat demikian kita dibenci Dewatae. Jujur terhadap sesama manusia maksudnya jika kita ditinggalkan oleh sesama kita tidak marahi tapi sebaliknya dimanfaatkan dan diberikan nasehat agar tidak diulanginya. Berkaitan dengan hal tersebut bila saya ke medan perang, musuh saya bunuh bila Dewatae menghendaki.

Tentang hasil padi dijelaskan bahwa kita hendaknya mengetahui nama-nama hari, nama-nama bintang di langit yang dikaitkan keduanya dengan perhitungan yang merupakan suatu sistem/pananrang. Pada hari penanaman padi dimohon atas perlindungan Dewatae.
Tentang keesaan Tuhan, dijelaskan bahwa Dewata hanya satu yang banyak hanya pesuruhnya dan dialah yang menguasai alam semesta ini bersama isinya. Juga dijelaskan bahwa suatu ketika datang bangsa lain membawa agama baru (agama Islam) dan melakukan berniaga kegiatan ibadah seperti sembahyang (maccua-cua ori tau-e) dan hal itu perlu diikuti.

Tidak berapa lama setelah Karaeng Matoaya bersama Somba meninggalkan Wajo dengan membawa sebuah tongkat warisan dari Arung Matowa, La Mungkace To Uddamang meninggal dunia dengan gelar Matinroe ri Kannana (Petta Matinroe ri Kannana). Sebelum meninggal beliau berpesan agar perisainya dibakar bersama jasadnya, lalu abu mayatnya dimasukkan di balubu dan ditanam bersama abunya.
Sepeninggal Arung Matowa La Mungkace To Uddamang kira-kira tahun 1607

Jadi kalaupun sekarang kita sering melihat pejabat Daerah selalu keluar daerah untuk Bimtek atau Studi Banding, kita tidak perlu heran, karena dari dulu memang hal seperti itu sudah dilakukan oleh pendahulu kita. (**)

Editor : HS. Agus

Exit mobile version