Ragam  

Momentum Hari Pahlawan, Pemerhati Sejarah Wajo Dorong Pemkab Usulkan Arung Matoa Wajo ke 23 Jadi Pahlawan Nasional

Makam Aruang Matoa Wajo ke 23 (foto : Doni)

MEDIABAHANA. COM, WAJO — Hari Pahlawan yang jatuh pada setiap 10 November, langsung mengingatkan pada perjuangan para pendahulu dalam mempertahankan kemerdekaan.

Hampir di semua daerah di Indonesia, memiliki pejuang pada zaman penjajahan Belanda, termasuk di Kabupaten Wajo.

Berdasarkan sejarah, Tanah Wajo memiliki sejumlah pejuang yang rela mengorbankan nyawa dan harta bendanya demi mempertahankan Tanah Wajo.

Salah satunya adalah Arung Matoa Wajo ke 23, La Tenri Lai Tosengngeng. Dia adalah seorang panglima perang yang gagah perkasa.

Momentum hari pahlawan tahun ini, sejatinyalah Pemerintah Kabupaten Wajo mengusulkan ke Pemerintah Pusat untuk mengangkat La Tenri Lai Tosengngeng sebagai Pahlawan Nasional.

Komunitas pemerhati sejarah Wajo, adalah salah satu elemen yang ikut mendorong agar Arung Matoa Wajo ke 23 ini, dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Salah seorang pemerhati sejarah Wajo, A. Pajung Peroe, berharap agar ada upaya pemerintah Kabupaten Wajo untuk mendorong dan mengusulkan La Tenri Lai Tosengngeng sebagai Pahlawan Nasional.

Mantan wartawan tempo ini, meminta kepada Pemkab Wajo, untuk tidak kalah dengan daerah lain yang telah mengusulkan nama pejuangnya menjadi Pahlawan Nasional.

“Kami pemerhati budaya Wajo sangat mendukung dan mendorong pemerintah untuk mengusulkan nama Arung Matoa Wajo ke 23 menjadi Pahlawan Nasional. Seandainya beliau tidak ikut berjuang mungkin saat ini, kita masih dalam masa penjajahan, ” ujarnya.

A. Pajung menyebut, tidak ada alasan pemerintah untuk tidak mengangkat La Tenri Lai Tosengngeng sebagai Pahlawan Nasional. Sejarah telah membuktikan, dalam Lontara sudah jelas dikisahkan perjuangan Arung Matoa Wajo ke 23, dengan gigihnya melawan penjajahan Belanda.

La Tenri Lai rela mengorbankan harta dan nyawanya demi mempertahankan kemerdekaan Tanah Wajo, yang sejak lahir sudah merdeka. Dia berani menolak menandatangani perjanjian Bongaya dan menolak tunduk kepada Belanda.

“Kami mengharapkan pemerintah memberikan penghargaan kepada La Tenri Lai Tosengngeng, Arung Matoa Wajo ke 23 sebagai Pahlawan Nasional,” ujarnya.

Katanya, penghargaan sebagai pahlawan nasional sangat wajar diberikan kepada Arung Matoa Wajo ke 23. Dia berjuang mengorbankan nyawa dan harta bendanya.

Bukan hanya itu saja, pemerintah kabupaten Wajo harusnya merawat dan melestarikan makan La Tenri Lai Tosengngeng.

Pemerintah seharusnya melestarikan makam-makam Arung Matoa Wajo dan menjadikannya sebagai cagar budaya.

Menurut A. Pajung, dalam Lontara jelas dikisahkan Perang Tosora dimulai sekitar Awal bulan Agustus 1670, ( Wajo melawan VOC gabung Bone, Soppeng)
Wajo di pimpin langsung oleh Arung Matoa Wajo ke 23 La Tenri Lai Tosengngeng sebagai panglima Perang.

La Tenri Lai To Sengngeng meninggal bersama ribuan prajurit Wajo dalam Perang itu, sekitar bulan oktober 1670 dalam perang tersebut.

Akhirnya Tosora Jatuh tanggal 1 Desember 1670.

23 Desember 1670 penandatanganan perjanjian kekalahan Wajo. Perjanjian tersebut antara VOC dan Wajo yang di lakukan di Benten Rotterdam yang mana Wajo di Wakili oleh Arung Matoa Wajo ke 24 La Palilik To Maluk. (**)

Editor : HS. Agus

Tinggalkan Balasan