Ragam  

LA PAKKOKO TO PA’BELE’, Arung Matoa Wajo Ke- X Menghukum Mati Anaknya Semi Rasa Keadilan Masyarakat Wajo

Arung Matoa Wajo ke X, La Pakkoko (foto : Dony)

Oleh : D. Suhardiman Sunusi

MEDIABAHANA.COM, WAJO — Ade’e’ temmakke-anak’ temmakke’-e’po.
(Adat tak mengenal anak, tak mengenal cucu).

Artinya: Dalam menjalankan norma-norma adat tidak boleh pilih kasih (tak pandang bulu). Misalnya, anak sendiri jelas-jelas melakukan pelanggaran, maka harus dikenakan sanksi (hukumman) sesuai ketentuan adat yang berlaku.

Perkawinan La Taddampare Puangrimaggalatung dengan We Marellang Putri Sangalla melahirkan beberapa orang anak, salah satunya yang bernama La Pakkoko, beliau lebih di kenal dengan nama La Pakkoko To Pa’bele’.gelar To Pa’bele’ diambil dari nama anaknya yang bernama la Pa’bele’ dari pernikahannya dengan we Dala saudara perempuan Arung sekkanasu.

La Pakkoko diangkat jadi Arung Matoa Wajo yang ke- X sekitar tahun 1564 menggantikan La Mappapole yang telah meninggal dunia.

Konsep pemerintahan yang ditinggalkan oleh ayah beliau La Taddampare puangrimaggalatung mengalir melalui kepemimpinan beliau .

Dalam menjalankan roda pemerintahan sebagai Arung Matoa Wajo, La Pakkoko sangat terkenal raja yang keras dan sangat adil. Serta memegang teguh peraturan peraturan yang telah ada. Dan sangat teristimewa dalam menjaga hak kebebasan orang Wajo.

Dan pada suatu ketika, ujian itupun akhirnya datang memasuki istana Arung Matoa Wajo La Pakkoko To Pa’bele’ , dimana pada suatu hari Matoa Kampung daerah Totinco melaporkan prilaku anaknya La Pa’bele’ yang telah memperkosa anak gadisnya. Laporan ini Tentunya sangat menyedihkan bagi Arung Matoa, karena perbuatannya anaknya di samping telah menginjak injak hak kebebasan orang wajo juga telah mencoreng nama baik keluarga.

Tapi walaupun bagaimana Arung Matoa Wajo La Pakkoko memahami benar bahwa Adat yang telah merupakan jiwa dan semangat Masyarakat Wajo berlaku umum dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Adat tidak mengenal kedudukan, kelas sosial, derajat kepangkatan, status sosial ekonomi, dan lain-lain, dalam menjatuhkan sanksi atau hukuman adat terhadap manusia-manusia yang telah melakukan pelanggaran. Dari mana pun asal manusia itu, apakah dia seorang raja, putra mahkota, orang kaya, bangsawan, sama sekali tidak mempunyai hak istimewa dalam kehidupan pangngadereng masyarakat Wajo.

Kedudukan kelompok elite dan masyarakat biasa diperlakukan sama dalam kehidupan masyarakat. Faktor inilah yang telah menempatkan adat pada tempat yang teratas dalam diri manusia Bugis, “Ade’temmakiana’, temmakieppo” (adat tidak mengenal anak dan tidak mengenal cucu).

La Pa’ bele” pun diseret ke pengadilan Adat kerajaan Tana’Wajo, Sehingga berdasarkan hasil pemeriksaan dalam persidangan yang dihadiri oleh semua PettaE ri Wajo maka diputuskanlah bahwa La Pa’bele’ telah bersalah dan di jatuhkan hukuman Mati atas perbuatannya

Maka pada hari yang telah di tentukan proses hukuman matipun dilaksanakan yang di lakukan oleh La Mungkace To Udama atas perintah langsung Arung Matoa Wajo.

Peristiwa ini telah memperlihatkan kepribadian La Pakkoko sebagai seorang pemimpin yang tegas dan adil walaupun itu harus kehilangan nyawa anaknya.

La Pakokoq To Pabbelleq meninggal dunia sekitar tahun 1567, setelah memerintah sekitar 3 tahun lamanya. (**)

Editor : HS. Agus

Tinggalkan Balasan