Ragam  

Sumpah Arung Sakkoli dan Arung Gilireng Ke Wajo

Sumpah Arung Gilireng dan Arung Sakkoli (foto : Dony)

Oleh : D. Suhardiman Sunusi

MEDIABAHANA.COM, WAJO — Diplomasi sebagai titik awal Wajo dalam membangun persekutuan merupakan cara pertama yang selalu dilakukan oleh kerajaan Wajo dalam mengembangkan wilayahnya, kecuali kalau pilihan awal ditolak dan mengalami kebuntuan, maka perang adalah pilihan terakhir

Arung Matoa Wajo berupaya memperbesar dan memperluas wilayah kerajaan Wajo, tetapi tetap mengutamakan upaya damai melalui jalur diplomasi, bergabungnya Sakkoli, dan Gilireng harus di akhiri dengan perang, karena upaya diplomasi yang tawarkan oleh Puangrimaggalatung tidak disambut baik 2 kerajaan bersekutu ini,

Bahkan tidak tanggung tanggung utusan Wajo harus bolak balik dari Wajo ke Sakkoli dan gilireng selama 5 bulan lamanya sambil membawa persembahan 3 lembar kain, 2 orang dan sepasang gelang sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan Wajo terhadap kedua kerajaan tersebut, tetapi kedua kerajaan tersebut tetap bwraikukuh tidak mau menerima tawaran Wajo Yang dipimpin oleh Arung Matoa Wajo Puangrimaggalatung pada waktu itu.

Maka pilihan terakhir terpaksa harus melalui perang
Perangpung tak dapat terhindarkan,
Baru 5 hari berperang sakkoli pung takluk dan menyerah dan sebagai bentuk penyerahan mereka ke Wajo, Arung Sakkoli yang bernama La Baba,sengngoe memberikan 2 orang, 3 lembar kain dan sepasang gelang sambil mengucapkan sumpah setia kepada Wajo…

Sumpah Arung Sakkoli
Anginlah Wajo’ dan daun kayu Sakkoli yang diwarisi anak cucu kita, tidak dibawa oleh orang mati, tidak terbawa oleh keburukan negeri dan disaksikan oleh Dewata Yang Esa,

Adapun Gilireng setelah perang tidak mau mengikuti Sakkoli dalam proses penyerahannya kepada Wajo.
Bentuk penolakan Gilireng memaksa Wajo melakukan penyerangan tersendiri ke Gilireng, dan tidak berapa lama pun Gilireng pun juga takluk dan menyerah ke Wajo….

Sumpah Arung Gilireng
“ Anginlah Wajo dan daun kayu Gilireng apa saja kehendak Wajo tidak aku berlaku curang, diwarisi oleh anak cucu kami, asalkan engkau menjamin sumber penghidupan orang-orang Gilireng…

Kembalilah ke negerimu, hai Gilireng , engkau laksanakan segala peraturan hukum Yang telah engkau tetapkan,engkau adili perkara di dalam negerimu, tidak dicampuri oleh_Wajo persoalan dalam negerimu, dan dikuatkan oleh Wajo’ ketetapanmu, jaga baiklah negeri Wajo Baik dari dalam, maupun dari luar yang hendak merusakmu, masuklah untuk_memberitahukannya kepada indukmu dan jadilah warga B’e ttempola.

Barangsiapa yang meninggalkan kata sepakatnya, akan hancur negerinya , bagaikan pecahan tempurung tempat_minumannya. (**)

Editor : HS. Agus

Tinggalkan Balasan